Gusar, kusimpan. Maklumi kenyataan akademik di dunia ketiga. Aku butuh lebih dari sekedar dua text book untuk dipinjam. Untuk membuat kajian, mendalami materi, mengenali masalah, membandingkan teori, merumuskan kesimpulan. Literatur diperlukan lebih banyak. Hanya buku-buku yang mampu melebarkan mata pikiran. Mereka yang pernah mengecap pendidikan luar negeri harusnya merasakan kejanggalan ini. Kesenjangan antara kebutuhan pustaka dan kata "dua buku saja"
Aku mengeluh, memelas. "Dua buku saja tidak cukup"
"lima lah"
Bagi yang berwenang aku meminta pengasihan. Memohon kebijakan dari pimpinan.
Tidak banyak rasa simpati dari mereka untuk aku, pemuja tempat ini. Yang rutin mengisi lembaran buku tamu,. Selembarnya diisi oleh sekian pengunjung yang jumlahnya tak sampai dua puluh.
Tempat ini, tempat di mana aku bisa menjumpai para ilmuwan, musisi, seniman dan para sejarahwan lewat tulisan-tulisan mereka, kini telah ditinggal sepi para penuntut ilmu, yang konon teknologi komunikasi telah menjadikannya tidak begitu populer lagi. Teknologi yang memungkinkan unduhan buku digital beratus-ratus halaman, atau video streaming kualitas high definition. Yang menggelindingkan kemudahan bagi mereka yang dengan mudahnya berucap, "kan bisa di-copy paste"
Kini sudut-sudut ruangnya benar-benar sepi.
Yang tersisa di sini tinggal para pegawai yang banyak, jumlah mereka hampir menyaingi jumlah perabot ruang buku. Yang seharian mereka duduk menghabiskan waktu di belakang meja. Untuk mengisi kekosongan mereka bersenda, bercerita kisah indah dan sendu selebriti, mengasah kemampuan jari telunjuk di depan komputer, makan siang di tengah hari dan membalikkan papan "tutup".
Menempuh studi magister di salah satu universitas negeri sendiri, di kotanya Sam Ratulangi, tokoh pendidikan yang mendunia. Namanya yang harum kini tak sebanding dengan penerusnya yang mengantuk.
Aku ingin menjadikan tempat ini jadi rumah. Rumah pustaka. Bukan bangunan kaku dengan deretan buku yang fungsinya mirip pajangan.
Ironi ini kusimpan, hanya weblog yang bisa jadi tempat curhatan.
Rumah pustaka yang harusnya jadi rumah para ilmuwan, pencinta buku dan pemimpi. Kini hanya tempat yang cocok ditinggali para petidur.
Apa saja yang sempat lewat di pikiran, ku tulis. biar kemarin tidak berlarian ke sana ke sini terus menghilang begitu saja.
Biji Anggur Pembelajaran
Satu lagi hal yang saya rindukan berada di Perth dan yang susah ditemukan di Manado yaitu: ‘Makan anggur di taman.’
Menikmati a branch of grape tanpa harus bingung membuang biji-biji kecilnya adalah hal yang menyenangkan.
Sampai terbayang bagaimana enaknya kalo anggur dicipta tanpa biji, supaya tidak perlu membuang kembali dari mulut biji yang sudah masuk bersama segar buahnya. Ini terpikir karena di sekitar tempat sampah sering ditemukan biji-biji yang berceceran karena ‘tembakan’ biji dari mulut yang salah sasaran.
Tapi sayangnya kemudahan itu hanya bisa kita temukan pada agar-agar rasa anggur.
Rasa asli hanya bisa dirasakan bersama-sama dengan keruwetan untuk mempersiapkan cikal bakal buah masa berikutnya.
Keunggulan yang diciptakan suatu buah tidak lepas pula dari upayanya menciptakan keunggulan di masa datang.
Satu pemikiran lagi yang terlintas, “bisakah kita mempertahankan keunggulan tanpa menyisihkan bagian untuk proses regenerasi?” Karena alampun memperagakan perilaku yang bijaksana.
Entah waktu ataupun tenaga dicurahkan sepenuhnya untuk sebuah pencapaian keberhasilan. Terlebih sempurna lagi apabila beberapa persen dari semua itu tidak hanya memproduksi effort to succeed tapi juga effort to reproduce.
Segala kemegahan kita cepat atau lambat akan berakhir, tetapi proses pem’biji’an akan berlangsung terus.
Memang sangat menjengkelkan melihat murid kurang trampil melakukan tugas yang kita delegasikan, tapi itu sebenarnya adalah cara kita menikmati anggur berbiji. Kita butuh waktu dan tenaga untuk membiarkannya belajar.
Segala kesalahan dari orang yang kita taruhkan kepercayaan adalah dampak dari biji anggur pembelajaran. Bukankah kita juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik? Dengan gagalnya orang yang kita percayai, kita berarti sedang belajar salah satu cara mempercayai.
Kita hanya perlu menyiapkan satu ruang dalam diri kita untuk pembelajaran bagi terjadinya proses pembuahan yang terus menerus. Proses yang beregenerasi terus dalam diri kita ataupun di masa berikut.
Menikmati a branch of grape tanpa harus bingung membuang biji-biji kecilnya adalah hal yang menyenangkan.
Sampai terbayang bagaimana enaknya kalo anggur dicipta tanpa biji, supaya tidak perlu membuang kembali dari mulut biji yang sudah masuk bersama segar buahnya. Ini terpikir karena di sekitar tempat sampah sering ditemukan biji-biji yang berceceran karena ‘tembakan’ biji dari mulut yang salah sasaran.
Tapi sayangnya kemudahan itu hanya bisa kita temukan pada agar-agar rasa anggur.
Rasa asli hanya bisa dirasakan bersama-sama dengan keruwetan untuk mempersiapkan cikal bakal buah masa berikutnya.
Keunggulan yang diciptakan suatu buah tidak lepas pula dari upayanya menciptakan keunggulan di masa datang.
Satu pemikiran lagi yang terlintas, “bisakah kita mempertahankan keunggulan tanpa menyisihkan bagian untuk proses regenerasi?” Karena alampun memperagakan perilaku yang bijaksana.
Entah waktu ataupun tenaga dicurahkan sepenuhnya untuk sebuah pencapaian keberhasilan. Terlebih sempurna lagi apabila beberapa persen dari semua itu tidak hanya memproduksi effort to succeed tapi juga effort to reproduce.
Segala kemegahan kita cepat atau lambat akan berakhir, tetapi proses pem’biji’an akan berlangsung terus.
Memang sangat menjengkelkan melihat murid kurang trampil melakukan tugas yang kita delegasikan, tapi itu sebenarnya adalah cara kita menikmati anggur berbiji. Kita butuh waktu dan tenaga untuk membiarkannya belajar.
Segala kesalahan dari orang yang kita taruhkan kepercayaan adalah dampak dari biji anggur pembelajaran. Bukankah kita juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik? Dengan gagalnya orang yang kita percayai, kita berarti sedang belajar salah satu cara mempercayai.
Kita hanya perlu menyiapkan satu ruang dalam diri kita untuk pembelajaran bagi terjadinya proses pembuahan yang terus menerus. Proses yang beregenerasi terus dalam diri kita ataupun di masa berikut.
A Last Day of My Life
Aku tahu dinanti atau tidak,
Saat itu akan datang juga.
Saat di mana tak ada satu kata pun yang bisa kutulis, kuucapkan,
bahkan sama sekali tidak bisa kupikirkan.
Ragaku akan berhenti kutumpangi.
Aku akan diam membeku seperti juga daging dan tulangku.
Sesaat sebelum aku mati, aku akan menangisi setiap tetesan air mata orang yang kukasihi
Tak ada cinta yang lebih besar dari cinta kekasih
Tak ada tangis yang lebih sakit dari perpisahan
Aku menghormati hari kelahiranku
dan aku mendoakan hari kematianku
Saat datang waktunya aku ingin seperti pangeran yang kelelahan pulang dari peperangan.
Aku ingin mati seperti saat penari selesai menari.
Aku ingin menghembuskan nafas terakhir seperti saat pelukis selesai melukis.
Aku ingin melihat sebesar apa gelombang yang kubuat sebelum sisa hidup ini akan menjadi kenangan yang akan berlalu.
Aku ingin hidupku berakhir pada saat ku hanya bisa terkulai melihat yang telah ku taklukkan.
Segala sesuatunya hanyalah seberkas cahaya yang datang dan pergi
Segala yang pernah ku lihat hanyalah sesuatu yang tak dapat dipegang
Karenanya aku akan menghembuskan nafas terakhir dalam pengagungan akan hidup di hari hari kemarin,
akan datangnya sinar baru memenuhi hari pekabunganku.
Saat itu akan datang juga.
Saat di mana tak ada satu kata pun yang bisa kutulis, kuucapkan,
bahkan sama sekali tidak bisa kupikirkan.
Ragaku akan berhenti kutumpangi.
Aku akan diam membeku seperti juga daging dan tulangku.
Sesaat sebelum aku mati, aku akan menangisi setiap tetesan air mata orang yang kukasihi
Tak ada cinta yang lebih besar dari cinta kekasih
Tak ada tangis yang lebih sakit dari perpisahan
Aku menghormati hari kelahiranku
dan aku mendoakan hari kematianku
Saat datang waktunya aku ingin seperti pangeran yang kelelahan pulang dari peperangan.
Aku ingin mati seperti saat penari selesai menari.
Aku ingin menghembuskan nafas terakhir seperti saat pelukis selesai melukis.
Aku ingin melihat sebesar apa gelombang yang kubuat sebelum sisa hidup ini akan menjadi kenangan yang akan berlalu.
Aku ingin hidupku berakhir pada saat ku hanya bisa terkulai melihat yang telah ku taklukkan.
Segala sesuatunya hanyalah seberkas cahaya yang datang dan pergi
Segala yang pernah ku lihat hanyalah sesuatu yang tak dapat dipegang
Karenanya aku akan menghembuskan nafas terakhir dalam pengagungan akan hidup di hari hari kemarin,
akan datangnya sinar baru memenuhi hari pekabunganku.
Aku Malu
Aku malu jika sakit penyakit membunuhku,
Atau sakit lanjut usia datang menikamku dari belakang.
Aku ingin berkelana menaklukan ketakutan dalam diriku,
dan menulis sesuatu yang indah.
Atau menemukan sedikit keberanian untuk bertarung mengalahkan dunia.
Sehingga yang terakhir hanya tinggal satu,
dunia yang ku taklukkan, atau aku yang terkulai mati di hadapan murkanya.
Atau sakit lanjut usia datang menikamku dari belakang.
Aku ingin berkelana menaklukan ketakutan dalam diriku,
dan menulis sesuatu yang indah.
Atau menemukan sedikit keberanian untuk bertarung mengalahkan dunia.
Sehingga yang terakhir hanya tinggal satu,
dunia yang ku taklukkan, atau aku yang terkulai mati di hadapan murkanya.
Lihaga, you must see!
baru saja sehari angin selatan mulai bertiup,
sekelompok orang menaiki perahu kecil bermotor kecil menyeberangi selat untuk menjumpai si elok yang telah lama ku nanti.
rasanya sudah berkali-kali nama ini terucap di depanku.
kekuatan kekagumannya mulai memanggilku dari seberang.
gemuruh ombak yang menggentarkan hati pria yang tidak biasa melaut ini tidak layak untuk jadi penghalang hasrat.
tidak juga terik matahari yang menyengat siang itu.
hamparan pasir putih halus yang luas melingkari pulau ini pastilah sangat berharga untuk mata bagi semua pemuja keindahan.
Lihaga, sungguh indah, kawan.
entah ketakjuban siang atau juga lapisan2 awan putih yang berbaris di depan hamparan langit sore,
entah kemurnian tonasi hijau pada lautan kedalaman rendah atau misteri birunya.
Hari ini sulit dijelaskan bagaimana rasanya hati ini berkali-kali mengucapkan takjub,
atau mulut ini yang berkali-kali melontarkan pujian,
atau mata ini yang berkali-kali dipejamkan hanya untuk menyerap kekuatan dari desiran2 ombak dan hembusan angin yang mengandung pesona lima indera.
Perjalanan pulang dikelilingi lautan biru dan bentangan langit sore berwarna jingga yang perlahan memerah.
tidak percuma kukalahkan jenuh dan lelah.
semuanya terganti dengan tetesan2 pelega jiwa.
setiap tetesan itu tidak pernah tergantikan, kawan.
sekelompok orang menaiki perahu kecil bermotor kecil menyeberangi selat untuk menjumpai si elok yang telah lama ku nanti.
rasanya sudah berkali-kali nama ini terucap di depanku.
kekuatan kekagumannya mulai memanggilku dari seberang.
gemuruh ombak yang menggentarkan hati pria yang tidak biasa melaut ini tidak layak untuk jadi penghalang hasrat.
tidak juga terik matahari yang menyengat siang itu.
hamparan pasir putih halus yang luas melingkari pulau ini pastilah sangat berharga untuk mata bagi semua pemuja keindahan.
Lihaga, sungguh indah, kawan.
entah ketakjuban siang atau juga lapisan2 awan putih yang berbaris di depan hamparan langit sore,
entah kemurnian tonasi hijau pada lautan kedalaman rendah atau misteri birunya.
Hari ini sulit dijelaskan bagaimana rasanya hati ini berkali-kali mengucapkan takjub,
atau mulut ini yang berkali-kali melontarkan pujian,
atau mata ini yang berkali-kali dipejamkan hanya untuk menyerap kekuatan dari desiran2 ombak dan hembusan angin yang mengandung pesona lima indera.
Perjalanan pulang dikelilingi lautan biru dan bentangan langit sore berwarna jingga yang perlahan memerah.
tidak percuma kukalahkan jenuh dan lelah.
semuanya terganti dengan tetesan2 pelega jiwa.
setiap tetesan itu tidak pernah tergantikan, kawan.
Come to Manado
Lalu lintas yang lumayan padat di sore hari, langit memerah di seberang laut memerintahkan saya ganti haluan ke kanan, ke arah town square yang area parkir belakangnya lengang.
Magnet itu menjanjikan tayangan yang dahsyat.
Parkiran tak jauh dari bibir bebatuan pantai yang misterius nan eksotis.
Guys,... so sweet hamparan langit dan lautan yang hanya dipisahkan satu garis horizon yang jauh itu.
Gradasi warna biru gelap ke jingga, kuning, merah yang tak dapat dipahami pencampuran warnanya. tak bisa dijelaskan oleh beberapa teori warna.
Jauh di atas horizon itu tersamar bulatan jingga yang melirik nakal dan pergi meninggalkan para pengagumnya yang berdiri terus menatapnya berlalu. Saya adalah satu di antara para pengagum itu. Dengan segelas milkshake AW di tangan kanan, saya hanya bisa membiarkannya berlalu dan menikmati rona merah yang membekas di langit yang terbalut awan2 dramatis di atas sana.
Jauh2 ke negeri orang, di sini, drama kolosal seperti tadi begitu mudah di dapat. Hanya dengan meluangkan waktu sejenak dan menyerap keihndahan satu sisi kota, jiwa ini bisa terlepas dan memuji alam.
Friends, come to manado! You're gonna love it
Magnet itu menjanjikan tayangan yang dahsyat.
Parkiran tak jauh dari bibir bebatuan pantai yang misterius nan eksotis.
Guys,... so sweet hamparan langit dan lautan yang hanya dipisahkan satu garis horizon yang jauh itu.
Gradasi warna biru gelap ke jingga, kuning, merah yang tak dapat dipahami pencampuran warnanya. tak bisa dijelaskan oleh beberapa teori warna.
Jauh di atas horizon itu tersamar bulatan jingga yang melirik nakal dan pergi meninggalkan para pengagumnya yang berdiri terus menatapnya berlalu. Saya adalah satu di antara para pengagum itu. Dengan segelas milkshake AW di tangan kanan, saya hanya bisa membiarkannya berlalu dan menikmati rona merah yang membekas di langit yang terbalut awan2 dramatis di atas sana.
Jauh2 ke negeri orang, di sini, drama kolosal seperti tadi begitu mudah di dapat. Hanya dengan meluangkan waktu sejenak dan menyerap keihndahan satu sisi kota, jiwa ini bisa terlepas dan memuji alam.
Friends, come to manado! You're gonna love it
Why I Love Bandung
Meninggalkan kota itu selalu rasanya sendu.
Berlama-lama atau singkat, tetap saja terasa tidak cukup.
Bandung bukanlah kota gemerlap yang sudut2nya dipenuhi jejeran gedung berlantai banyak dan penuh hiburan. Bangunan2nya yang berdiri megah, keramaian pusat kota, detail2 historik pada setiap ornamen bangunan tua. Semuanya sangat ramah menyapa para pelancong. Hiruk pikuknya tidak mengintimidasi hati yg kerdil sang perantau tersesat.
Namun ku rasa bukan itu alasannya. Alasan mengapa hati ini terpaut.
Kenyamanan lidah mencicipi sajian yg mengundang selera juga bukan yg pertama terkenang.
Setiap kali memori tersedot dalam-dalam, hanyalah gambar tentang senyum hangat dan tatap pasang2 mata mungil yang menanti pelukan. Yang dengan sabar meladeni lelucon garing lelaki yg disapa 'om' itu.
Merasakan keeratan dengan suatu kota, semua berhubungan dengan manusianya.
Bagaimana kita berinteraksi dan get connected dengan manusia di dalamnya.
Jawaban dari semua perasaan ini terletak d situ. Alasan terkuat mengapa aku terus berharap utk kembali.
Berlama-lama atau singkat, tetap saja terasa tidak cukup.
Bandung bukanlah kota gemerlap yang sudut2nya dipenuhi jejeran gedung berlantai banyak dan penuh hiburan. Bangunan2nya yang berdiri megah, keramaian pusat kota, detail2 historik pada setiap ornamen bangunan tua. Semuanya sangat ramah menyapa para pelancong. Hiruk pikuknya tidak mengintimidasi hati yg kerdil sang perantau tersesat.
Namun ku rasa bukan itu alasannya. Alasan mengapa hati ini terpaut.
Kenyamanan lidah mencicipi sajian yg mengundang selera juga bukan yg pertama terkenang.
Setiap kali memori tersedot dalam-dalam, hanyalah gambar tentang senyum hangat dan tatap pasang2 mata mungil yang menanti pelukan. Yang dengan sabar meladeni lelucon garing lelaki yg disapa 'om' itu.
Merasakan keeratan dengan suatu kota, semua berhubungan dengan manusianya.
Bagaimana kita berinteraksi dan get connected dengan manusia di dalamnya.
Jawaban dari semua perasaan ini terletak d situ. Alasan terkuat mengapa aku terus berharap utk kembali.
Small things for Sustainable Development
What can we do to help the Environment? Even though we might understand sustainability issues really well; we might find it quite hard to make it applicable in our daily lives. Let’s start with small things, then.
1. Minimizing the use of Plastic Bag. It’s really common when u shop in groceries store and the cashier guy/girl offers u plastic bag to ease your tiny little burden, such as a pen or a pair of Alkaline AA Batteries. As u know, those things are really, really simple to put in your pocket so u don’t have to use their plastic bags. Some store (in our country) doesn’t have awareness to this issue, or they simply just don’t know what the ‘eco-friendly’ is all about. Just explain it to them. Can u?
2. Use smart Water Dispenser Sometimes u don’t want to drink cold water, nor have a hot instant coffee because u only get thirsty and need a glass of water in normal temperature. So u need the third option beside ‘hot’ and ‘cold’ water to be dispensed. However, we often don't have this ‘third option,’ thus u end up mixing both (hot and cold) in your glass and waste a lot of energy. As u know, it takes about 10 Watt-hour to boil half glass of water and 10 Watt-hour to chill it out.
3. Try not to draw map in a blank white new paper when someone ask for your address, and never write your phone number on it. Just find another used paper, please.
4. Try using Public Transport Despite of the inconvenience, public transport in our city is still more efficient than using personal car. Especially when u only need to make one trip in a day (home-office or home-school). Mass transport is important for energy efficiency in urban transportation system, because it could save 90% fossil fuels usage.
5. Washing clothes with less (sufficient) detergent. By doing it, you use water more efficiently.
6. Use grey water. Water generated from our domestic activities such as laundry, dishwashing and bathing can be reused. Use it for carwashing, for example.
7. Manage your trash bin. Divide garbage in two boxes; for things that can be recycled and for organic trash.
8. Persuade our kids to love their poor old dolls. Or force them, if it’s necessary. It will reduce demand of plastic-made products.
Of course there are a lot of (small) things u can start by your own ideas, you name it. be wise, help the environment.
Retorika EcoToursim
Tanggal 25 Juli kemarin telah diadakan seminar sehari bertajuk Sustainable EcoTourism Development in Indonesia.
Dengan enam pembicara yang mewakili unsur berkepentingan. Diantaranya Kementrian Budpar RI, Kementrian PAN, dan pemerintah kota Manado disertai beberapa unsur dari pihak penyelenggara.
Sekian banyak presentasi ide pengembangan digelontorkan dengan polos. Seolah-olah kompleksitas isu sustainability hanya seringan transisi slide berwarna-warni.
Sekali lagi, apa yang luput dari isu development bertajuk Eco Tourism kali ini?
Penyelenggara agaknya lupa menggaris bawahi makna dari pembangunan berpola-pikir sustainability.
Melekatkan kata 'Eco' dalam Tourism tidak menjadikan program-program visioner bisa diterima mentah-mentah. Karena bukan tidak mungkin konsep Ecotourism telah mengalami bias yang imbasnya justru tidak sesuai harapan.
Pariwisata kini telah menjadi salah satu industri yang berpotensi besar sebagai pendongkrak pendapatan asli selain industri manufaktur. Dan kita tahu bersama bahwa permasalahan utama dari pengembangan industri adalah konflik antara kepentingan ekonomi dan keberlangsungan ekologi. Demikian juga pariwisata menghadapi tantangan yang serupa.
Demi menaikkan jumlah kunjungan wisata beserta menambah area perdagangan -misalnya, perluasan kawasan pusat bisnis dan jasa dimekarkan hingga menyentuh area luar lahan asli kota dan sekalian dengan itu, juga turut menekan keluar kekayaan-kekayaan terpendam dari heritage kota yang sedikit teridentifikasi. Heritage yang dimaksud bukan hanya terbatas pada peninggalan-peninggalah fisik, melainkan juga lingkungan sosial-budaya yang eksis di kawasan perkotaan.
Area permukiman juga pelan-plan terdorong keluar oleh karena gerak naik nilai lahan, dan akibatnya adalah kawasan yang dulunya berfungsi sebagai kawasan lindung penyangga kota, kini menjadi lahan tergarap untuk fungsi perumahan. Keadaan seperti ini yang disebut dengan Urban Sprawl. Urban Sprawl menjadi fenomena yang tak terhindarkan pada daerah-daerah yang pertumbuhan ekonominya melejit.
Pengembangan pariwisata seperti yang dihembuskan faktanya lebih mengedepankan proyeksi pendapatan ketimbang proyeksi perlindungan terhadap lingkungan. Eksploitasi sebagai akibat pertumbuhan bisnis pariwisata sekarang ini telah mengakibatkan sejumlah kerusakan alam. Ini menyebabkan keberlangsungan area wisata justru menjadi terancam.
Ironi ini mencuatkan pertanyaan, "pengembangan pariwisata seperti apa yang benar-benar dapat menjadi model yang tepat?" Dilema yang tidak mungkin kita bertutup mata adalah penanaman modal vs pengendalian alam.
Output yang ingin dicapai dari situ adalah produk regulasi daerah.
Tantangannya adalah, dapatkah pemerintah menumbuhkan investasi di tengah-tengah konflik Ekonomi-Ekologi? Karena akan banyak perangkat regulasi yang bisa saja membatasi ruang gerak pelaku penanaman modal daerah. Sementara masyarakat kota masih alergi dengan geliat investasi yang lebih banyak melakukan pencaplokan area publik.
Jika pertanyaan ini tidak bisa dijawab, maka seminar seperti ini hanyalah sebatas retorika birokrasi yang nilainya masih sangat kecil terhadap masalah sustainability development.
Di kemudian hari, semoga pemerintah kota kita bisa melakukan pengembangan kapasitas terhadap isu yang sangat mengglobal ini.
Steviano Tungka
Resonansi
Setiap benda yang bergetar akan menggetarkan benda sekitarnya.
Benda yang turut bergetar akan selalu mencoba bergetar dengan frekuensi yang sama dengan sumbernya.
Para ilmuwan menyebutnya: resonansi.
Sebuah peristiwa unik dan selalu terjadi.
Manusia beresonansi -persis seperti benda.
Manusia berempati,
berduka dengan mereka yang berduka
berbahagia dengan mereka yang berbahagia.
Manusia beresonansi,
turut menggetarkan kebaikan
turut menggetarkan keburukan
Manusia beresonansi,
turut menyanyikan alunan yang sama
turut menari dengan irama yang sama
Aku dan dirimu adalah manusia
Aku dan dirimu persis seperti benda
Kita saling beresonansi dengan semua kebaikan dan kelemahan kita.
Di sela-sela hiruk pikuk dan keramaian
Aku mendekat padamu dengan harapan
Menggetarkan irama dalam satu alunan
Getaran yang menjadikan aku manusia
Membenahi kebusukkan masa belia
Aku dan dirimu saling berbagi
layaknya benda beresonansi
di antara kemilau-kemilau hari
Bukan sekedar kedaulatan
Tujuh-belasan, ritual tahunan yang mengobarkan hati.
Membuat luapan semangat patriotisme naik setinggi merah-putih yang kita kibarkan.
Puluhan tahun lalu, mereka, para pendaulat telah mati-matian merebut udara kebebasan yang hingga saat ini bisa kita hirup.
Saatnya tahun ke-66 kemerdekaan telah membawa bangsa Indonesia sampai di hari ini, bertepatan dengan hadirnya konflik pluralisme dan disintegrasi bangsa.
Tumbuhnya gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka di barat sampai Papua Merdeka di timur (sebagian gerakan separatis telah berhasil memisahkan Timor Leste dari NKRI).
Dan sementara bagian tubuh yang lain berusaha dieratkan, bagian yang lain bergejolak. Pluralisme makin hari makin terancam oleh kekuatan yang lain. Kekuatan berdasar pada ideologi tertentu seperti lahirnya NII yang bisa menggulingkan pemerintahan, serta anarkisme gerakan massa yang semakin sulit diredam oleh penegak hukum.
Selamat datang di babak baru dalam perjuangan kemerdekaan kita!
Semakin hari semakin sadarlah kita, bahwa perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan yang tak berkesudahan. Perjuangan di mana manusia berusaha untuk lepas dari cengkeraman manusia yang lain.
Kedaulatan negara yang dulunya kita peroleh atas perjuangan mendapatkan hak merdeka sebagai umat manusia, kini menjadi semakin kecil artinya.
Apalah arti kedaulatan jika negara tidak menjamin kemerdekaan hakiki?
Negara yang berdaulat adalah negara yang melahirkan individu-individu yang merdeka. Dan betul-betul merdeka.
Merdeka dari kekangan radikalisme yang selama ini telah mengganti kekangan kolonialisme pasca proklamasi.
Merdeka untuk mempertahankan hak asasi.
Merdeka untuk bernafas, merdeka untuk makan, merdeka untuk bekerja, merdeka untuk segalanya.
Merdeka untuk menjadi suci, merdeka untuk menjadi orang yang dianggap tidak suci
Apalah arti kedaulatan jika di negeri ini telah lahir manusia-manusia penguasa yang baru?
Manusia yang terus merampas hak manusia yang lain demi kepentingan mereka sendiri.
Mereka-mereka yang disebut penjajah di era modern.
Kemerdekaan ini berarti juga pengahapusan keserakahan manusia yang berkuasa.
Kini, perjuangan kita bukan cuma sekedar mempertahankan kedaulatan yang sudah kita miliki.
Perjuangan kita sekarang adalah untuk kemerdekaan umat manusia.
Perjuangan yang lebih bermakna sebagai upaya kelompok manusia yang lemah melawan kelompok manusia yang lebih kuat dan memiliki naluri dasar untuk menguasai manusia lainnya.
Kalau hanya sekedar kedaulatan yang kita miliki, maka kemerdekaan kita belum berarti apa-apa.
Hari ini, kita manusia Indonesia yang tinggal tetap di negeri ini, masih percaya akan kemerdekaan yang dijanjikan sejak dulu kala.
Tetaplah berjuang. Merdeka!
Subscribe to:
Posts (Atom)