Awalnya adalah manusia. Pengumpul dan pemburu. Sejak pra-sejarah di mana arsitektur tidak dikenal. Nenek moyang kita bertahan hidup dengan makan, berlindung dan melahirkan keturunan. Atas kecakapannya, manusia membuat rumah perlindungan dari bebatuan dengan material yang terbatas atau menandai gua perlindungannya dengan simbol. Inilah karya arsitektur manusia yang pertama.
Saat sejarah mulai membuat catatan tentang peradaban, kesadaran manusia akan eksistensi ruang dan makna mendorong manusia untuk menandai batasan atas ruang yang ditemukannya secara indrawi. Kesadaran adalah titik awal manusia berarsitektur.
Manusia perlahan mengontrol sifat-sifat yang pada awalnya lebih liar.
Kecerdasan menuntun manusia dalam menemukan patra. Kesadaran yang membentuk keteraturan. Dari yang berantakan menjadi tertata. Dari yang acak menjadi terurut.
Kesadaran ini jugalah yang menciptakan hierarki dan juga tatanan.
Jejak Vernacularism yang terwarisi hingga abad modern adalah bukti kecakapan manusia dalam berarsitektur.
Sebagaimana kesadaran menemukan keteraturan dalam sistem hubungan sosial, kesadaran yang sama jugalah yang mengatur sistem raja dan rakyat*
*(Hubungan raja-rakyat ini tentu bukan jenis hubungan seperti penguasa-dan-dikuasai. Awal-mulanya kerajaan terbentuk diawali oleh kesadaran manusia sendiri atas ketidakteraturan. Manusia membutuhkan pemimpin yang mengatur. Jadi hubungan raja-rakyat tidak lain adalah hubungan antara yang mengatur dan yang diatur).
Secara perlahan sistem hubungan sosial inilah yang melahirkan arsitektur berdasarkan hierarki.
Kekaisaran, kerajaan menciptakan keteraturan, struktur dan pola ruang, sehingga arsitektur menjadi semakin nyata karena pemilahan ruang bukan lagi sekedar pemetaan antara privat dan publik saja tetapi juga pembedaan antara yang rendah dan yang ditinggikan.
Sistem hubungan sosial menciptakan hierarki dan pemilahan ruang antar manusia. Pemetaan ruang antara yang diagungkan dengan penyembah.
Penaklukan
Dan sedemikian panjangnya masa manusia membangun peradaban, sampailah manusia pada masa penaklukan, yakni masa-masa dimana kerajaan dan penguasa saling merebut teritori. Perang antara kaum barbar dan kerajaan.
Barbar adalah kelompok manusia yang -dianggap- tidak memiliki hierarki hubungan tingkat sosial yang jelas sedangkan kerajaan memiliki organisasi peran manusia yang lebih teratur. Pada akhirnya pemetaan peran ini pun menjadi pengkelasan manusia.
Arsitektur menjelma sebagai monumen penguasa pada saat manusia membentuk kerajaannya.
Untuk menandai batas kekuasaan, penanda dibuat lebih dari sekedar menandai locus dan teritori saja, tetapi juga mengokohkannya menjadi benteng perlindungan.
Di dalam sejarah, kebanyakan arsitektur mendampingi kejayaan raja-raja dan juga sekaligus menjadi saksi peristiwa kerajaan dengan kerajaan saling menghancurkan.
Invasi menjadi alasan satu-satunya manusia berlindung dari serangan. Dibalik kekokohan batuan, kayu dan besi.
Arsitektur menghormati feodalisme, kolonialisme.
Arsitek diupah penguasa. Atau lebih tepatnya dititah oleh penguasa.
Kastil, benteng, dan monumen menjadi ciri khas yang paling kental betapa manusia benar telah melewati fase ini dalam catatan masa lalunya.
Aksial
Di balik cerita tentang manusia dan ruang, salah satunya mengisahkan cerita sakral manusia di masa pencerahan. Cerita ketika manusia menemukan Tuhannya.
Zaman aksial adalah masa transisi ke-barbar-an manusia menjadi masa penemuan dirinya sendiri.
Arsitektur menjadi saksi. Kesadaran manusia memisahkan locus manusia dan mahasuci.
Arsitek adalah perpanjangan tangan Tuhan. Bertugas menyiapkan ruangNya yang kudus.
Manifestasi “yang kuasa” dihadirkan dalam pewujudan ruang yang maha tinggi, dan ruang untuk manusia tempatnya di bawah dan jauh terpisah dari yang kudus dan yang ditinggikan di langit.
Titik awal zaman modern
Masa sejarah telah kita tinggalkan. Kisahnya telah kita gantungkan di dinding pembelajaran kita.
Arsitektur klasik sebenarnya adalah penanda di mana pengaruh pemikiran-pemikiran modern telah mengubah cara-cara pemerintahan inklusif pada zaman di belakangnya.
Arsitektur menyaksikan sendiri urut-urutan peradaban manusia pasca masa pencerahan. Revolusi industri, kapitalisme dan perdagangan bebas.
Sekarang ini arsitektur kebanyakan hadir dalam wujud produk. Produk yang memenuhi kebutuhan manusia. Produk pertambahan nilai.
Sebagaimana produk-produk konsumsi diciptakan untuk memenuhi demand manusia, filosofi form-follow-function adalah dasar yang paling banyak dianut.
Arsitektur tunduk pada permintaan pasar.
Di masa ini arsitek harus bisa memahami arti pertambahan nilai agar bisa diupah.
Arsitek kapitalis jauh lebih populer daripada arsitek humanis.
Era post modern menjadi perhelatan antara arsitektur kapitalis dan humanis. Namun perjuangan arsitek humanis untuk mendapat apresiasi membutuhkan upaya yang berat.
Ruang yang terbatas
Fase paling kini yang dihadapi arsitek adalah kesadaran terhadap ruang yang ternyata tidak berlimpah. Seperti pada saat semula ketika kesadaran melahirkan arsitektur, dengan kesadaran yang sama juga kita dihadapkan lagi pada kenyataan tentang habitat di mana manusia berbagi tempat tinggal dengan makhluk hidup lain memiliki keterbatasan spasial.
Masa postmodern kali ini adalah masa penemuan kembali jatidiri arsitek seperti dulu kala saat pertama arsitektur ditemukan. Sebuah kesadaran untuk melihat kembali dunia kita yang universal.
Dengan kesadaran yang sama pula kita akan mengakui, bahwa tanpa respons terhadap perubahan ekosistem, maka manusia mustahil dapat mempertahankan habitatnya seperti sediakala.
Sebagai ahli keruangan, kini arsitek perlu memikirkan lagi akan hasratnya menciptakan ruang positif atas ruang-ruang negatif, tetapi juga perlu membangunkan kembali kesadarannya lagi demi mencegah eksploitasi ruang yang berlebihan.
Arsitek adalah salah satu di antara manusia yang memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan kesadaran itu agar manusia yang lain terkondisikan untuk melihat lebih peka lagi tentang dunia. Karena arsitektur sedianya adalah cerita tentang manusia yang menemukan kembali makna eksistensinya di dunia ini.
Steviano
Steviano