Arsitektur dan Arsitek Sedianya

Awalnya adalah manusia. Pengumpul dan pemburu. Sejak pra-sejarah di mana arsitektur tidak dikenal. Nenek moyang kita bertahan hidup dengan makan, berlindung dan melahirkan keturunan. Atas kecakapannya, manusia membuat rumah perlindungan dari bebatuan dengan material yang terbatas atau menandai gua perlindungannya dengan simbol. Inilah karya arsitektur manusia yang pertama.

Saat sejarah mulai membuat catatan tentang peradaban, kesadaran manusia akan eksistensi ruang dan makna mendorong manusia untuk menandai batasan atas ruang yang ditemukannya secara indrawi. Kesadaran adalah titik awal manusia berarsitektur.

Manusia perlahan mengontrol sifat-sifat yang pada awalnya lebih liar.
Kecerdasan menuntun manusia dalam menemukan patra. Kesadaran yang membentuk keteraturan. Dari yang berantakan menjadi tertata. Dari yang acak menjadi terurut.
Kesadaran ini jugalah yang menciptakan hierarki dan juga tatanan.
Jejak Vernacularism yang terwarisi hingga abad modern adalah bukti kecakapan manusia dalam berarsitektur.

Sebagaimana kesadaran menemukan keteraturan dalam sistem hubungan sosial, kesadaran yang sama jugalah yang mengatur sistem raja dan rakyat*
*(Hubungan raja-rakyat ini tentu bukan jenis hubungan seperti penguasa-dan-dikuasai. Awal-mulanya kerajaan terbentuk diawali oleh kesadaran manusia sendiri atas ketidakteraturan. Manusia membutuhkan pemimpin yang mengatur. Jadi hubungan raja-rakyat tidak lain adalah hubungan antara yang mengatur dan yang diatur).
 Secara perlahan sistem hubungan sosial inilah yang melahirkan arsitektur berdasarkan hierarki.
Kekaisaran, kerajaan menciptakan keteraturan, struktur dan pola ruang, sehingga arsitektur menjadi semakin nyata karena pemilahan ruang bukan lagi sekedar pemetaan antara privat dan publik saja tetapi juga pembedaan antara yang rendah dan yang ditinggikan.
Sistem hubungan sosial menciptakan hierarki dan pemilahan ruang antar manusia. Pemetaan ruang antara yang diagungkan dengan penyembah.

Penaklukan

Dan sedemikian panjangnya masa manusia membangun peradaban, sampailah manusia pada masa penaklukan, yakni masa-masa dimana kerajaan dan penguasa saling merebut teritori. Perang antara kaum barbar dan kerajaan.
Barbar adalah kelompok manusia yang -dianggap- tidak memiliki hierarki hubungan tingkat sosial yang jelas sedangkan kerajaan memiliki organisasi peran manusia yang lebih teratur. Pada akhirnya pemetaan peran ini pun menjadi pengkelasan manusia.

Arsitektur menjelma sebagai monumen penguasa pada saat manusia membentuk kerajaannya.
Untuk menandai batas kekuasaan, penanda dibuat lebih dari sekedar menandai locus dan teritori saja, tetapi juga mengokohkannya menjadi benteng perlindungan.

Di dalam sejarah, kebanyakan arsitektur mendampingi kejayaan raja-raja dan juga sekaligus menjadi saksi peristiwa kerajaan dengan kerajaan saling menghancurkan.
Invasi menjadi alasan satu-satunya manusia berlindung dari serangan. Dibalik kekokohan batuan, kayu dan besi.

Arsitektur menghormati feodalisme, kolonialisme.
Arsitek diupah penguasa. Atau lebih tepatnya dititah oleh penguasa.
Kastil, benteng, dan monumen menjadi ciri khas yang paling kental betapa manusia benar telah melewati fase ini dalam catatan masa lalunya.

Aksial

Di balik cerita tentang manusia dan ruang, salah satunya mengisahkan cerita sakral manusia di masa pencerahan. Cerita ketika manusia menemukan Tuhannya.
Zaman aksial adalah masa transisi ke-barbar-an manusia menjadi masa penemuan dirinya sendiri.
Arsitektur menjadi saksi. Kesadaran manusia memisahkan locus manusia dan mahasuci.
Arsitek adalah perpanjangan tangan Tuhan. Bertugas menyiapkan ruangNya yang kudus.
Manifestasi “yang kuasa” dihadirkan dalam pewujudan ruang yang maha tinggi, dan ruang untuk manusia tempatnya di bawah dan jauh terpisah dari yang kudus dan yang ditinggikan di langit.

Titik awal zaman modern

Masa sejarah telah kita tinggalkan. Kisahnya telah kita gantungkan di dinding pembelajaran kita.
Arsitektur klasik sebenarnya adalah penanda di mana pengaruh pemikiran-pemikiran modern telah mengubah cara-cara pemerintahan inklusif pada zaman di belakangnya.

Arsitektur menyaksikan sendiri urut-urutan peradaban manusia pasca masa pencerahan. Revolusi industri, kapitalisme dan perdagangan bebas.

Sekarang ini arsitektur kebanyakan hadir dalam wujud produk. Produk yang memenuhi kebutuhan manusia. Produk pertambahan nilai.
Sebagaimana produk-produk konsumsi diciptakan untuk memenuhi demand manusia, filosofi form-follow-function adalah dasar yang paling banyak dianut.

Arsitektur tunduk pada permintaan pasar.

Di masa ini arsitek harus bisa memahami arti pertambahan nilai agar bisa diupah.
Arsitek kapitalis jauh lebih populer daripada arsitek humanis.
Era post modern menjadi perhelatan antara arsitektur kapitalis dan humanis. Namun perjuangan arsitek humanis untuk mendapat apresiasi membutuhkan upaya yang berat.


Ruang yang terbatas

Fase paling kini yang dihadapi arsitek adalah kesadaran terhadap ruang yang ternyata tidak berlimpah. Seperti pada saat semula ketika kesadaran melahirkan arsitektur, dengan kesadaran yang sama juga kita dihadapkan lagi pada kenyataan tentang habitat di mana manusia berbagi tempat tinggal dengan makhluk hidup lain memiliki keterbatasan spasial.

Masa postmodern kali ini adalah masa penemuan kembali jatidiri arsitek seperti dulu kala saat pertama arsitektur ditemukan. Sebuah kesadaran untuk melihat kembali dunia kita yang universal.

Dengan kesadaran yang sama pula kita akan mengakui, bahwa tanpa respons terhadap perubahan ekosistem, maka manusia mustahil dapat mempertahankan habitatnya seperti sediakala.

Sebagai ahli keruangan, kini arsitek perlu memikirkan lagi akan hasratnya menciptakan ruang positif atas ruang-ruang negatif, tetapi juga perlu membangunkan kembali kesadarannya lagi demi mencegah eksploitasi ruang yang berlebihan.

Arsitek adalah salah satu di antara manusia yang memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan kesadaran itu agar manusia yang lain terkondisikan untuk melihat lebih peka lagi tentang dunia. Karena arsitektur sedianya adalah cerita tentang manusia yang menemukan kembali makna eksistensinya di dunia ini.

Steviano

Masih Ngotot dengan DP Rumah Rp 0?

Saya bersyukur kedua calon gubernur memiliki perhatian yang serius terhadap masalah perumahan untuk masyarakat DKI. Tapi ada dua pendekatan yang berbeda dari kedua cagub di sini. Pak Ahok memberikan solusi atas masalah ini dengan menyediakan hunian, sedangkan Pak Anies menjembatani kemudahan kepemilikan rumah bagi warga.
Menyoroti usulan program dari Pak Anies, sampai sejauh ini saya masih menganggap pernyataannya cuma salah ucap saja, yang terus menerus dibuat seolah-olah masuk akal. Dalam debat terakhirpun (12 April 2017), Pak Anies masih saja melontarkan niat pembiayaan rumah ini. Belum lagi dengan media-media online yang terus menerus diproduksi hanya untuk membuat statement-statementnya terlihat rasional. Tanpa mengurangi apresiasi terhadap niat yang tulus ini, saya menyarankan Pak Anies untuk mengakui salah ucapnya dan mencoba mengoreksi janji kampanye dengan pendekatan yang lebih terukur lagi.
Mengapa saya katakan ide Pak Anies ini tidak terukur?
Jakarta, sama seperti kota-kota di negara berkembang lainnya memiliki beban yang tinggi terhadap penyediaan hunian. Penghuni urban di DKI memiliki keterbatasan untuk memiliki rumah oleh karena harga properti yang melejit dari tahun ke tahun. Kenaikan ini juga disebabkan oleh tingginya permintaan akibat kekurangan supply. Lingkaran ini tidak akan pernah berhenti oleh karena mekanisme pasar itu sendiri.
Intervensi kebijakan versi Pak Anies adalah menjembatani warga untuk memiliki properti. Siapa yang tidak ingin memiliki rumah? Ini tentu menggiurkan. Namun sebenarnya kebutuhan paling mendasar dari warga DKI adalah hunian, di mana masyarakat ibukota memiliki kesempatan untuk tinggal dan bekerja di kota. Berbeda dengan Pak Anies, kebijakan versi pak Ahok adalah, ketika pemerintah tidak mampu membuat warganya memiliki rumah, mereka bisa tetap menghuni area perkotaan yang mahal ini.
Sebagai penentu kebijakan di daerah dengan pendapatan yang tinggi, tentu Pak Anies menganggap pemerintah dapat menyediakan instrumen pembiayaan bagi warga calon pemilik rumah lewat alokasi APBD yang bisa menutupi gap anggaran kepemilikan rumah perorangan.
Namun sektor keuangan memiliki aturan mainnya sendiri. Bantuan pengadaan rumah yang sangat ringan (dengan skema pembiayaan apapun) di satu sisi memiliki resiko yang tinggi, dan anggaran daerah tidak mungkin mendukung beban finansialnya. Berharap pada perbankan, kita sama-sama tahu hantu yang paling ditakuti oleh bank adalah kredit macet. Salah langkah dalam kebijakan properti dapat mengakibatkan pukulan bagi perbankan, daerah dan juga tentunya dampak turunan bagi masyarakat, yakni membuat kreditur rumah terhimpit oleh karena beban angsuran plus beban tinggi dari pemeliharaan properti yang tidak pernah disinggung Pak Anies dalam penjabaran programnya.
Sampai saat ini saya hanya bisa menyarankan Pak Anies dan Pak Sandi, beserta tim suksesnya berhenti untuk menjanjikan apa yang diinginkan oleh masyarakat ibukota (kepemilikan rumah) yang sebenarnya masih belum mampu diberikan pemerintah, melainkan mulailah berpikir untuk memberikan apa yang dibutuhkan terlebih dahulu, yakni hunian yang layak.

Kembali

Semenjak sajak yang teruntai lembut masuk ke dalam telingaku, kala itu senja memanggil aku berlari-lari, aku terhanyut dalam keindahan penghujan.
Berangsur pelan gerimis memantrai langit memerah, bergegas aku menghampiri keramaian jingga di antara jalanan dan di bawah langit berharap gelap.
Kota yang memanjai masa kanak, hingga memuaskan hati belia. kini aku memenuhi janji, menyapa keronta dedaunan yang tebarannya menyendukan hati dan menggemetarkan lutut perantau.
Aku merentangkan payung kemayu, menari menipu irama gundah. Aku terus berjalan sampai sampai riuh jalanan terserap keheningan. Tidak ada lagi riuh ku dengar mengganggu lamunanku.
Aku terjatuh dan terbawa jauh, ke dalam hipnotis barisan garis gerimis yang mendesis dan desahan angin yang perlahan-lahan menyentuh kedinginan.

Masa Orientasi Pelajar

Saya mengikuti masa orientasi mahasiswa tahun 1996 di Fakultas Teknik pada salah satu Universitas di Manado. Jujur saja, jika diingat kembali saya masih menikmati kenangan pahit-kerasnya masa penggemblengan itu. Bentakan senior, barisan teman seperjuangan yang dijemur di lapangan kampus dan bahkan sampai bau keringat kitapun masih jelas terekam dalam ingatan ini.

Sudah menjadi tradisi setiap tahun di kampus kami dan juga di institusi pendidikan lainnya, ketika memasuki tahun ajaran yang baru, kegiatan orientasi menjadi yang pertama diadakan.

Orientasi adalah kegiatan pengenalan dunia kampus yang relatif masih asing bagi mahasiswa yang baru memasuki sistem akademik di perguruan tinggi. Mulai dari pengurusan administrasi, sistem kredit, kontrak mata kuliah dan assignments.

Kali ini kenangan saya tentang masa orientasi tidak seindah itu. Selain konten edukatif yang saya sebut di atas, kami juga mendapat bonus penggemblengan fisik yang hampir menyerupai latihan calon paskribaka. Tapi bedanya tanpa latihan baris-berbaris membawa baki.

Selain tempaan fisik, kami turut dilatih dengan berbagai macam kurikulum instan kreasi senior. Kami ditugasi membawa aneka perlengkapan aneh dan unik untuk melatih kreativitas. Kami kerap diberi hukuman tidak peduli salah atau benar. Tapi hukuman demi hukuman yang kami terima, kami anggap sebagai komedi karena memang lucu. Kadang kami juga ikut tertawa karenanya, kadang hanya senior yang bisa tertawa.

Semingu setelah melewati orientasi itu, ada rasa bangga terasa karena telah berhasil melalui masa yang keras dan akhirnya bertahan. Senior-senior kita telah berhasil menciptakan rasa bangga itu sejak pertama kali kita menginjak kaki di Fakultas Teknik. Fakultas yang katanya telah menciptakan banyak lulusan yang siap pakai, dan katanya fakultas yang menuntut mahasiswa dengan mental baja sehingga kegiatan orientasi dengan gaya yang keras seperti ini dianggap bisa membuat calon mahasiswa lebih siap untuk melewati rintangan yang keras selama masa perkuliahan yang akan dihadapi selama lima sampai belasan tahun.

Beberapa bulan setelah itu, kegiatan kuliah mulai terasa kembali normal, lepas dari hiruk-pikuk masa orientasi di mana entah kebetulan atau tidak, di bulan awal tahun ajaran ini banyak senior bermunculan dan menghilang setelahnya.

Tugas dan kuliah terasa mulai menyiksa dan efek "pembinaan" orientasi mulai terasa tidak terlalu berpengaruh dalam kinerja belajar saya. Yang terjadi adalah mahasiswa yang rajinlah yang bisa lulus dan menyelesaikan mata kuliah dengan nilai memuaskan, dan bukan mahasiswa yang lulus dengan hasil terbaik dalam masa orientasi. Karena memang sama sekali tidak ada skala penilaian yang lebih signifikan dari hasil lulus orientasi selain: "lulus dengan baik."

Jadi tidak ada korelasi positif antara prestasi kelulusan orientasi dan kelulusan kuliah.

Setelahnya saya terus berpikir, orientasi yang pada hakikatnya adalah masa pengenalan seharusnya tetaplah menjadi demikian. Haruskah diubah menjadi ajang penggemblengan fisik dan mental ala militer demi mewujudkan angkatan kuliah yang katanya "tahan banting?"

Masih relevankah wajah orientasi pelajar di peradaban modern, di saat dunia akademi dituntut untuk lebih banyak mendorong terciptanya lebih banyak lagi ilmuwan dan angkatan kerja terdidik? Jika pendidikan militer mungkin masih relevan jika tempaan fisik menjadi bagian dari kurikulum pelatihan, atau mungkin juga pendidikan aparatur negara yang menuntut kedisiplinan calon praja. Tapi rasanya dalam lingkungan akademis murni, saya kira ini terlalu berlebihan.

Saya menjadi kuatir jika kultur ini terpelihara, justru akan meneruskan semangat senioritas yang buta. Di mana dalam budaya ini cenderung memenjara kehendak manusia untuk menciptakan perubahan. Budaya paternalistik yang pada akhirnya mengekang kebebasan berpikir di mana kebebasan ini adalah awal mula berkembangnya ilmu pengetahuan.

Jika saya punya pengaruh untuk menghentikan mata rantai kultur kekerasan dalam masa orientasi pelajar ini, saya ingin menghentikannya.
Semoga Anda setuju dengan saya.

Steviano.

Berlaku Adil

Seorang teman saya, ahli ME di suatu perusahaan kontraktor pernah menceritakan seorang teman dekatnya yang pintar. Yang tidak pernah mencontek selama ujian di sekolah dan selama mereka sama-sama menempuh perguruan tinggi. Setahun setelah mereka juga sama-sama selesai, entah karena kurang beruntung atau alasan lainnya, si pintar ini belum juga mendapat pekerjaan. Sementara semua teman baik mereka sudah bekerja di luar daerah, di swasta, pns dan ada juga yang sudah bekerja di perusahaan asing. Sampai suatu ketika, saat keberuntungan menyapa, dia mendapat kesempatan bekerja dengan perusahaan dari Korea. Dari situ dia mulai menemukan jalan kesuksesannya. Kepercayaan yang didapat dari perusahaan tempat dia bekerja membuat karirnya mencuat dengan penghasilan tidak sedikit tentunya. Di situasi seperti ini tidak akan ada yang mempertanyakan kenapa dia bisa sukses.


Sebaliknya pada kisah yang berbeda, kasus korupsi dari oknum dalam institusi penyelenggara negara sudah pasti akan mendapat cercaan publik. Semua orang akan selalu menggerutu karena terbongkarnya beberapa konspirasi yang menguntungkan sekelompok orang sedangkan kita tahu masih banyak yang sampai saat ini belum merasakan hidup sejahtera. Sampai pada hukuman 15 tahun penjara pun, orang-orang tetap merasa tidak adil. Padahal nilai rupiah yang digelapkan mungkin tidak akan sampai habis dipakai untuk masa 10 tahun.

Praktek korupsi sebenarnya hanya berawal dari hal sederhana. Setiap kita melakukan praktek ketidakadilan, kita sudah melakukan korupsi. Dalam hidup sehari-hari pemandangannya beragam, mulai dari kejadian pengendara motor menyerobot jalur pejalan kaki, menyontek saat ujian, menyerobot antrian, itu hanya hal sepele. Karena tingkat kerugian dari hal-hal sepele itu tidak akan dirupiahkan, akhirnya kecurangan seperti itu masih bisa ditoleransi. Di tingkatan lebih serius lagi, kita yang mengetahui sumber-sumber distribusi kebutuhan pokok, sengaja membendung suplai stok karena menginginkan kenaikkan harga. Hal ini tentunya melanggar hak orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dengan layak. Pada akhirnya ketika kita sudah sampai pada tingkatan pengambil keputusan ataupun bagian dari lingkar penentu kebijakan, kita akan terbiasa dengan prevelensi kita sebagai otoritas yang perlahan mengikis kepekaan kita terhadap azas pemerataan dan kesamaan hak dengan orang lain.

Intinya adalah pada saat kita telah sampai tingkatan di mana kita mendapat kesempatan untuk memperoleh hak istimewa, kita dihadapkan pada pilihan yang paling menggoda, yakni menguntungkan diri sendiri. Dalam situasi seperti inilah kita berpotensi untuk mengabaikan kepentingan orang lain. Kita menjadi merasa lebih berhak dari orang lain dan tanpa sadar sebenarnya kita telah melukai keadilan sosial.

Sejak saat ini, ketika kita masih belum sampai pada lingkaran itu, saya ingin kita semua berusaha untuk tetap berlaku adil dalam keadaan apapun dan dalam situasi sesulit apapun. Dan tidak ada yang bilang bahwa berlaku adil itu mudah. Tapi justru sebaliknya, di zaman yang makin keras ini kita harus berjuang keras biar tidak terdepak dari sikut-sikutan zaman. Seperti layaknya berebutan tempat di kereta pagi. Rasanya susah kalau kita tidak keras menjaga batasan hak kita. Kadang agresivitas kitalah yang melanggar hak orang lain dan pada akhirnya kita jadi bersikap tidak adil.

Sesulit apapun itu tetaplah berusaha. Karena ada saatnya nanti, saat kemudahan menjadi bagian dari hidup kita, kita dapat memastikan tidak ada satu orang pun yang akan merasa dicurangi karena kerja keras kita. Dan keberuntungan-keberuntungan kita tak hanya untuk kita nikmati sendiri, tapi juga menjadi kepuasan bagi mereka yang merindukan keadilan.

Born is the king of Israel

Teman-teman muslim mungkin tidak begitu paham dengan kata Israel dalam perayaan Natal umat Nasrani. Sebagian lagi mungkin bersikap seperti anti dengan kata ini. Pada saat kami menyanyikan “Born is the King of Israel”, perlu teman-teman ketahui, bahwa kami bukan menekankan pada pengagungan sebuah Negara, melainkan kami sedang menyanyikan sukacita atas lahirnya keselamatan umat manusia (tentu dalam pandangan iman kami). Karena kelahiran Yesus adalah sebuah tanda datangnya raja kami yang dalam misinya untuk menebus dosa-dosa kami di atas kayu salib. Konsep penebusan dosa sendiri akan menjadi sebuah perdebatan dan tidak dapat dipahami oleh semua orang yang bukan beragama Kristen. Sangat panjang dan kompleks ceritanya. Bangsa Israel tidak lepas dari sejarah agama Kristen. Jauh sebelum masehi, bangsa yang lahir dari keturunan Abraham (Nabi Ibrahim) ini tercatat dalam Alkitab adalah bangsa yang selalu mengalami penyertaan Allah. Bahkan lebih lagi, bangsa ini dikatakan sebagai bangsa pilihan Allah (begitu tertulis di dalamnya). Alkitab mencatat bangsa ini telah menikmati pembebasan dari masa perbudakan bangsa Mesir dengan cara yang sangat mencengangkan. Mereka juga telah mengalami kemenangan-kemenangan dalam peperangan, serta kekalahan demi kekalahan oleh karena ketidak-taatan para raja-raja yang tidak hidup berkenan. Perjalanan bangsa Israel dalam tulisan Alkitab menjadi sebuah pembelajaran bagi kami tentang konsep hubungan manusia dengan Tuhan. Israel adalah bangsa yang bebal, suka mengeluh dan cenderung memberontak. Nabi-nabinya pun banyak dibuat mereka berkeluh kesah karena kebebalan hati mereka. Namun kasih karunia Allah dengan berbagai wujud telah dinyatakan bagi mereka agar mereka memperoleh keselamatan. Dan wujud kasih Allah yang terbesar itu adalah dengan kedatangan Yesus ke dunia, dan menjalankan misiNya yaitu mati di atas kayu salib. Keselamatan oleh karena penebusan Yesus kini telah menjadi paham yang bukan hanya dimiliki oleh mereka, tetapi untuk setiap orang di dunia ini yang mau percaya. Kami, umat Kristiani adalah orang-orang yang percaya tentang paham ini. Dalam tulisan Alkitab diceritakan orang-orang Yahudi, yang adalah orang-orang dengan garis keturunan asli Israel, yang nenek moyang mereka telah mengalami sendiri mujizat-mujizat Tuhan pun, telah menolak kehadiran Yesus sebagai raja dan tidak pernah menerima konsep penebusan dosa oleh Yesus yang mati di atas kayu salib. Kini Israel telah berdiri menjadi sebuah negara dan Kristen telah menjadi kepercayaan spiritual yang berhak dimiliki oleh siapa saja dan tidak ada kaitannya dengan sikap-sikap politik Israel sebagai sebuah bangsa, ataupun sikap-sikap Zionist kelompok Yahudi. Israel dalam literatur kristiani, tatacara ibadah dan teks puji-pujian kini telah menjadi simbol yang mengingatkan kami umat yang percaya, tentang keselamatan yang diberikan bagi mereka di masa dahulu kala, dan kini diberikan juga untuk kita semua, orang-orang yang mau percaya. Semoga tulisan ini bisa sedikit memberi pencerahan, juga kepada sebagian orang/kelompok yang salah kaprah. Selamat Hari Natal Semua!!

Empati

Perkabungan adalah tempat kita menemukan kawan-kawan kita.
Saudara, sahabat, sekelompok manusia yang ditinggalkan.

Empati memaksa pikiran kita untuk berdiri bersama-sama dengan mereka,
yang sedang berusaha sekuatnya dengan tangisan untuk mencerna arti kata kehilangan.

Empati membuat kita turut memahami kepedihan yang mereka rasa,
memberikan kehangatan bagi hati mereka seolah-olah kami bisa berdiri lebih tegar.

Kita sadar cepat atau lambat kita harus bisa menerima arti kepergian, kehilangan, dan betapa berharganya kesempatan saat kita hidup bersama dengan orang-orang yang kita cintai.

Perpustakaan Tidur

Gusar, kusimpan. Maklumi kenyataan akademik di dunia ketiga. Aku butuh lebih dari sekedar dua text book untuk dipinjam. Untuk membuat kajian, mendalami materi, mengenali masalah, membandingkan teori, merumuskan kesimpulan. Literatur diperlukan lebih banyak. Hanya buku-buku yang mampu melebarkan mata pikiran. Mereka yang pernah mengecap pendidikan luar negeri harusnya merasakan kejanggalan ini. Kesenjangan antara kebutuhan pustaka dan kata "dua buku saja"
Aku mengeluh, memelas. "Dua buku saja tidak cukup"
"lima lah"
Bagi yang berwenang aku meminta pengasihan. Memohon kebijakan dari pimpinan.
Tidak banyak rasa simpati dari mereka untuk aku, pemuja tempat ini. Yang rutin mengisi lembaran buku tamu,. Selembarnya diisi oleh sekian pengunjung yang jumlahnya tak sampai dua puluh.
Tempat ini, tempat di mana aku bisa menjumpai para ilmuwan, musisi, seniman dan para sejarahwan lewat tulisan-tulisan mereka, kini telah ditinggal sepi para penuntut ilmu, yang konon teknologi komunikasi telah menjadikannya tidak begitu populer lagi. Teknologi yang memungkinkan unduhan buku digital beratus-ratus halaman, atau  video streaming kualitas high definition. Yang menggelindingkan kemudahan bagi mereka yang dengan mudahnya berucap, "kan bisa di-copy paste"
Kini sudut-sudut ruangnya benar-benar sepi.
Yang tersisa di sini tinggal para pegawai yang banyak, jumlah mereka hampir menyaingi jumlah perabot ruang buku. Yang seharian mereka duduk menghabiskan waktu di belakang meja. Untuk mengisi kekosongan mereka bersenda, bercerita kisah indah dan sendu selebriti, mengasah kemampuan jari telunjuk di depan komputer, makan siang di tengah hari dan membalikkan papan "tutup".

Menempuh studi magister di salah satu universitas negeri sendiri, di kotanya Sam Ratulangi, tokoh pendidikan yang mendunia. Namanya yang harum kini tak sebanding dengan penerusnya yang mengantuk.
Aku ingin menjadikan tempat ini jadi rumah. Rumah pustaka. Bukan bangunan kaku dengan deretan buku yang fungsinya mirip pajangan.
Ironi ini kusimpan, hanya weblog yang bisa jadi tempat curhatan.
Rumah pustaka yang harusnya jadi rumah para ilmuwan, pencinta buku dan pemimpi. Kini hanya tempat yang cocok ditinggali para petidur.

Biji Anggur Pembelajaran

Satu lagi hal yang saya rindukan berada di Perth dan yang susah ditemukan di Manado yaitu: ‘Makan anggur di taman.’

Menikmati a branch of grape tanpa harus bingung membuang biji-biji kecilnya adalah hal yang menyenangkan.

Sampai terbayang bagaimana enaknya kalo anggur dicipta tanpa biji, supaya tidak perlu membuang kembali dari mulut biji yang sudah masuk bersama segar buahnya. Ini terpikir karena di sekitar tempat sampah sering ditemukan biji-biji yang berceceran karena ‘tembakan’ biji dari mulut yang salah sasaran. 

Tapi sayangnya kemudahan itu hanya bisa kita temukan pada agar-agar rasa anggur.

Rasa asli hanya bisa dirasakan bersama-sama dengan keruwetan untuk mempersiapkan cikal bakal buah masa berikutnya.

Keunggulan yang diciptakan suatu buah tidak lepas pula dari upayanya menciptakan keunggulan di masa datang.

Satu pemikiran lagi yang terlintas, “bisakah kita mempertahankan keunggulan tanpa menyisihkan bagian untuk proses regenerasi?” Karena alampun memperagakan perilaku yang bijaksana. 

Entah waktu ataupun tenaga dicurahkan sepenuhnya untuk sebuah pencapaian keberhasilan. Terlebih sempurna lagi apabila beberapa persen dari semua itu tidak hanya memproduksi effort to succeed tapi juga effort to reproduce. 

Segala kemegahan kita cepat atau lambat akan berakhir, tetapi proses pem’biji’an akan berlangsung terus.

Memang sangat menjengkelkan melihat murid kurang trampil melakukan tugas yang kita delegasikan, tapi itu sebenarnya adalah cara kita menikmati anggur berbiji. Kita butuh waktu dan tenaga untuk membiarkannya belajar. 

Segala kesalahan dari orang yang kita taruhkan kepercayaan adalah dampak dari biji anggur pembelajaran. Bukankah kita juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik? Dengan gagalnya orang yang kita percayai, kita berarti sedang belajar salah satu cara mempercayai.

Kita hanya perlu menyiapkan satu ruang dalam diri kita untuk pembelajaran bagi terjadinya proses pembuahan yang terus menerus. Proses yang beregenerasi terus dalam diri kita ataupun di masa berikut.

A Last Day of My Life

Aku tahu dinanti atau tidak,
Saat itu akan datang juga.
Saat di mana tak ada satu kata pun yang bisa kutulis, kuucapkan,
bahkan sama sekali tidak bisa kupikirkan.
Ragaku akan berhenti kutumpangi.
Aku akan diam membeku seperti juga daging dan tulangku.

Sesaat sebelum aku mati, aku akan menangisi setiap tetesan air mata orang yang kukasihi
Tak ada cinta yang lebih besar dari cinta kekasih
Tak ada tangis yang lebih sakit dari perpisahan

Aku menghormati hari kelahiranku
dan aku mendoakan hari kematianku
Saat datang waktunya aku ingin seperti pangeran yang kelelahan pulang dari peperangan.
Aku ingin mati seperti saat penari selesai menari.
Aku ingin menghembuskan nafas terakhir seperti saat pelukis selesai melukis.
Aku ingin melihat sebesar apa gelombang yang kubuat sebelum sisa hidup ini akan menjadi kenangan yang akan berlalu.
Aku ingin hidupku berakhir pada saat ku hanya bisa terkulai melihat yang telah ku taklukkan.

Segala sesuatunya hanyalah seberkas cahaya yang datang dan pergi 
Segala yang pernah ku lihat hanyalah sesuatu yang tak dapat dipegang
Karenanya aku akan menghembuskan nafas terakhir dalam pengagungan akan hidup di hari hari kemarin,
akan datangnya sinar baru memenuhi hari pekabunganku.