Masa Orientasi Pelajar

Saya mengikuti masa orientasi mahasiswa tahun 1996 di Fakultas Teknik pada salah satu Universitas di Manado. Jujur saja, jika diingat kembali saya masih menikmati kenangan pahit-kerasnya masa penggemblengan itu. Bentakan senior, barisan teman seperjuangan yang dijemur di lapangan kampus dan bahkan sampai bau keringat kitapun masih jelas terekam dalam ingatan ini.

Sudah menjadi tradisi setiap tahun di kampus kami dan juga di institusi pendidikan lainnya, ketika memasuki tahun ajaran yang baru, kegiatan orientasi menjadi yang pertama diadakan.

Orientasi adalah kegiatan pengenalan dunia kampus yang relatif masih asing bagi mahasiswa yang baru memasuki sistem akademik di perguruan tinggi. Mulai dari pengurusan administrasi, sistem kredit, kontrak mata kuliah dan assignments.

Kali ini kenangan saya tentang masa orientasi tidak seindah itu. Selain konten edukatif yang saya sebut di atas, kami juga mendapat bonus penggemblengan fisik yang hampir menyerupai latihan calon paskribaka. Tapi bedanya tanpa latihan baris-berbaris membawa baki.

Selain tempaan fisik, kami turut dilatih dengan berbagai macam kurikulum instan kreasi senior. Kami ditugasi membawa aneka perlengkapan aneh dan unik untuk melatih kreativitas. Kami kerap diberi hukuman tidak peduli salah atau benar. Tapi hukuman demi hukuman yang kami terima, kami anggap sebagai komedi karena memang lucu. Kadang kami juga ikut tertawa karenanya, kadang hanya senior yang bisa tertawa.

Semingu setelah melewati orientasi itu, ada rasa bangga terasa karena telah berhasil melalui masa yang keras dan akhirnya bertahan. Senior-senior kita telah berhasil menciptakan rasa bangga itu sejak pertama kali kita menginjak kaki di Fakultas Teknik. Fakultas yang katanya telah menciptakan banyak lulusan yang siap pakai, dan katanya fakultas yang menuntut mahasiswa dengan mental baja sehingga kegiatan orientasi dengan gaya yang keras seperti ini dianggap bisa membuat calon mahasiswa lebih siap untuk melewati rintangan yang keras selama masa perkuliahan yang akan dihadapi selama lima sampai belasan tahun.

Beberapa bulan setelah itu, kegiatan kuliah mulai terasa kembali normal, lepas dari hiruk-pikuk masa orientasi di mana entah kebetulan atau tidak, di bulan awal tahun ajaran ini banyak senior bermunculan dan menghilang setelahnya.

Tugas dan kuliah terasa mulai menyiksa dan efek "pembinaan" orientasi mulai terasa tidak terlalu berpengaruh dalam kinerja belajar saya. Yang terjadi adalah mahasiswa yang rajinlah yang bisa lulus dan menyelesaikan mata kuliah dengan nilai memuaskan, dan bukan mahasiswa yang lulus dengan hasil terbaik dalam masa orientasi. Karena memang sama sekali tidak ada skala penilaian yang lebih signifikan dari hasil lulus orientasi selain: "lulus dengan baik."

Jadi tidak ada korelasi positif antara prestasi kelulusan orientasi dan kelulusan kuliah.

Setelahnya saya terus berpikir, orientasi yang pada hakikatnya adalah masa pengenalan seharusnya tetaplah menjadi demikian. Haruskah diubah menjadi ajang penggemblengan fisik dan mental ala militer demi mewujudkan angkatan kuliah yang katanya "tahan banting?"

Masih relevankah wajah orientasi pelajar di peradaban modern, di saat dunia akademi dituntut untuk lebih banyak mendorong terciptanya lebih banyak lagi ilmuwan dan angkatan kerja terdidik? Jika pendidikan militer mungkin masih relevan jika tempaan fisik menjadi bagian dari kurikulum pelatihan, atau mungkin juga pendidikan aparatur negara yang menuntut kedisiplinan calon praja. Tapi rasanya dalam lingkungan akademis murni, saya kira ini terlalu berlebihan.

Saya menjadi kuatir jika kultur ini terpelihara, justru akan meneruskan semangat senioritas yang buta. Di mana dalam budaya ini cenderung memenjara kehendak manusia untuk menciptakan perubahan. Budaya paternalistik yang pada akhirnya mengekang kebebasan berpikir di mana kebebasan ini adalah awal mula berkembangnya ilmu pengetahuan.

Jika saya punya pengaruh untuk menghentikan mata rantai kultur kekerasan dalam masa orientasi pelajar ini, saya ingin menghentikannya.
Semoga Anda setuju dengan saya.

Steviano.