Born is the king of Israel

Teman-teman muslim mungkin tidak begitu paham dengan kata Israel dalam perayaan Natal umat Nasrani. Sebagian lagi mungkin bersikap seperti anti dengan kata ini. Pada saat kami menyanyikan “Born is the King of Israel”, perlu teman-teman ketahui, bahwa kami bukan menekankan pada pengagungan sebuah Negara, melainkan kami sedang menyanyikan sukacita atas lahirnya keselamatan umat manusia (tentu dalam pandangan iman kami). Karena kelahiran Yesus adalah sebuah tanda datangnya raja kami yang dalam misinya untuk menebus dosa-dosa kami di atas kayu salib. Konsep penebusan dosa sendiri akan menjadi sebuah perdebatan dan tidak dapat dipahami oleh semua orang yang bukan beragama Kristen. Sangat panjang dan kompleks ceritanya. Bangsa Israel tidak lepas dari sejarah agama Kristen. Jauh sebelum masehi, bangsa yang lahir dari keturunan Abraham (Nabi Ibrahim) ini tercatat dalam Alkitab adalah bangsa yang selalu mengalami penyertaan Allah. Bahkan lebih lagi, bangsa ini dikatakan sebagai bangsa pilihan Allah (begitu tertulis di dalamnya). Alkitab mencatat bangsa ini telah menikmati pembebasan dari masa perbudakan bangsa Mesir dengan cara yang sangat mencengangkan. Mereka juga telah mengalami kemenangan-kemenangan dalam peperangan, serta kekalahan demi kekalahan oleh karena ketidak-taatan para raja-raja yang tidak hidup berkenan. Perjalanan bangsa Israel dalam tulisan Alkitab menjadi sebuah pembelajaran bagi kami tentang konsep hubungan manusia dengan Tuhan. Israel adalah bangsa yang bebal, suka mengeluh dan cenderung memberontak. Nabi-nabinya pun banyak dibuat mereka berkeluh kesah karena kebebalan hati mereka. Namun kasih karunia Allah dengan berbagai wujud telah dinyatakan bagi mereka agar mereka memperoleh keselamatan. Dan wujud kasih Allah yang terbesar itu adalah dengan kedatangan Yesus ke dunia, dan menjalankan misiNya yaitu mati di atas kayu salib. Keselamatan oleh karena penebusan Yesus kini telah menjadi paham yang bukan hanya dimiliki oleh mereka, tetapi untuk setiap orang di dunia ini yang mau percaya. Kami, umat Kristiani adalah orang-orang yang percaya tentang paham ini. Dalam tulisan Alkitab diceritakan orang-orang Yahudi, yang adalah orang-orang dengan garis keturunan asli Israel, yang nenek moyang mereka telah mengalami sendiri mujizat-mujizat Tuhan pun, telah menolak kehadiran Yesus sebagai raja dan tidak pernah menerima konsep penebusan dosa oleh Yesus yang mati di atas kayu salib. Kini Israel telah berdiri menjadi sebuah negara dan Kristen telah menjadi kepercayaan spiritual yang berhak dimiliki oleh siapa saja dan tidak ada kaitannya dengan sikap-sikap politik Israel sebagai sebuah bangsa, ataupun sikap-sikap Zionist kelompok Yahudi. Israel dalam literatur kristiani, tatacara ibadah dan teks puji-pujian kini telah menjadi simbol yang mengingatkan kami umat yang percaya, tentang keselamatan yang diberikan bagi mereka di masa dahulu kala, dan kini diberikan juga untuk kita semua, orang-orang yang mau percaya. Semoga tulisan ini bisa sedikit memberi pencerahan, juga kepada sebagian orang/kelompok yang salah kaprah. Selamat Hari Natal Semua!!

Empati

Perkabungan adalah tempat kita menemukan kawan-kawan kita.
Saudara, sahabat, sekelompok manusia yang ditinggalkan.

Empati memaksa pikiran kita untuk berdiri bersama-sama dengan mereka,
yang sedang berusaha sekuatnya dengan tangisan untuk mencerna arti kata kehilangan.

Empati membuat kita turut memahami kepedihan yang mereka rasa,
memberikan kehangatan bagi hati mereka seolah-olah kami bisa berdiri lebih tegar.

Kita sadar cepat atau lambat kita harus bisa menerima arti kepergian, kehilangan, dan betapa berharganya kesempatan saat kita hidup bersama dengan orang-orang yang kita cintai.