Gusar, kusimpan. Maklumi kenyataan akademik di dunia ketiga. Aku butuh lebih dari sekedar dua text book untuk dipinjam. Untuk membuat kajian, mendalami materi, mengenali masalah, membandingkan teori, merumuskan kesimpulan. Literatur diperlukan lebih banyak. Hanya buku-buku yang mampu melebarkan mata pikiran. Mereka yang pernah mengecap pendidikan luar negeri harusnya merasakan kejanggalan ini. Kesenjangan antara kebutuhan pustaka dan kata "dua buku saja"
Aku mengeluh, memelas. "Dua buku saja tidak cukup"
"lima lah"
Bagi yang berwenang aku meminta pengasihan. Memohon kebijakan dari pimpinan.
Tidak banyak rasa simpati dari mereka untuk aku, pemuja tempat ini. Yang rutin mengisi lembaran buku tamu,. Selembarnya diisi oleh sekian pengunjung yang jumlahnya tak sampai dua puluh.
Tempat ini, tempat di mana aku bisa menjumpai para ilmuwan, musisi, seniman dan para sejarahwan lewat tulisan-tulisan mereka, kini telah ditinggal sepi para penuntut ilmu, yang konon teknologi komunikasi telah menjadikannya tidak begitu populer lagi. Teknologi yang memungkinkan unduhan buku digital beratus-ratus halaman, atau video streaming kualitas high definition. Yang menggelindingkan kemudahan bagi mereka yang dengan mudahnya berucap, "kan bisa di-copy paste"
Kini sudut-sudut ruangnya benar-benar sepi.
Yang tersisa di sini tinggal para pegawai yang banyak, jumlah mereka hampir menyaingi jumlah perabot ruang buku. Yang seharian mereka duduk menghabiskan waktu di belakang meja. Untuk mengisi kekosongan mereka bersenda, bercerita kisah indah dan sendu selebriti, mengasah kemampuan jari telunjuk di depan komputer, makan siang di tengah hari dan membalikkan papan "tutup".
Menempuh studi magister di salah satu universitas negeri sendiri, di kotanya Sam Ratulangi, tokoh pendidikan yang mendunia. Namanya yang harum kini tak sebanding dengan penerusnya yang mengantuk.
Aku ingin menjadikan tempat ini jadi rumah. Rumah pustaka. Bukan bangunan kaku dengan deretan buku yang fungsinya mirip pajangan.
Ironi ini kusimpan, hanya weblog yang bisa jadi tempat curhatan.
Rumah pustaka yang harusnya jadi rumah para ilmuwan, pencinta buku dan pemimpi. Kini hanya tempat yang cocok ditinggali para petidur.