Satu lagi hal yang saya rindukan berada di Perth dan yang susah ditemukan di Manado yaitu: ‘Makan anggur di taman.’
Menikmati a branch of grape tanpa harus bingung membuang biji-biji kecilnya adalah hal yang menyenangkan.
Sampai terbayang bagaimana enaknya kalo anggur dicipta tanpa biji, supaya tidak perlu membuang kembali dari mulut biji yang sudah masuk bersama segar buahnya. Ini terpikir karena di sekitar tempat sampah sering ditemukan biji-biji yang berceceran karena ‘tembakan’ biji dari mulut yang salah sasaran.
Tapi sayangnya kemudahan itu hanya bisa kita temukan pada agar-agar rasa anggur.
Rasa asli hanya bisa dirasakan bersama-sama dengan keruwetan untuk mempersiapkan cikal bakal buah masa berikutnya.
Keunggulan yang diciptakan suatu buah tidak lepas pula dari upayanya menciptakan keunggulan di masa datang.
Satu pemikiran lagi yang terlintas, “bisakah kita mempertahankan keunggulan tanpa menyisihkan bagian untuk proses regenerasi?” Karena alampun memperagakan perilaku yang bijaksana.
Entah waktu ataupun tenaga dicurahkan sepenuhnya untuk sebuah pencapaian keberhasilan. Terlebih sempurna lagi apabila beberapa persen dari semua itu tidak hanya memproduksi effort to succeed tapi juga effort to reproduce.
Segala kemegahan kita cepat atau lambat akan berakhir, tetapi proses pem’biji’an akan berlangsung terus.
Memang sangat menjengkelkan melihat murid kurang trampil melakukan tugas yang kita delegasikan, tapi itu sebenarnya adalah cara kita menikmati anggur berbiji. Kita butuh waktu dan tenaga untuk membiarkannya belajar.
Segala kesalahan dari orang yang kita taruhkan kepercayaan adalah dampak dari biji anggur pembelajaran. Bukankah kita juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik? Dengan gagalnya orang yang kita percayai, kita berarti sedang belajar salah satu cara mempercayai.
Kita hanya perlu menyiapkan satu ruang dalam diri kita untuk pembelajaran bagi terjadinya proses pembuahan yang terus menerus. Proses yang beregenerasi terus dalam diri kita ataupun di masa berikut.