baru saja sehari angin selatan mulai bertiup,
sekelompok orang menaiki perahu kecil bermotor kecil menyeberangi selat untuk menjumpai si elok yang telah lama ku nanti.
rasanya sudah berkali-kali nama ini terucap di depanku.
kekuatan kekagumannya mulai memanggilku dari seberang.
gemuruh ombak yang menggentarkan hati pria yang tidak biasa melaut ini tidak layak untuk jadi penghalang hasrat.
tidak juga terik matahari yang menyengat siang itu.
hamparan pasir putih halus yang luas melingkari pulau ini pastilah sangat berharga untuk mata bagi semua pemuja keindahan.
Lihaga, sungguh indah, kawan.
entah ketakjuban siang atau juga lapisan2 awan putih yang berbaris di depan hamparan langit sore,
entah kemurnian tonasi hijau pada lautan kedalaman rendah atau misteri birunya.
Hari ini sulit dijelaskan bagaimana rasanya hati ini berkali-kali mengucapkan takjub,
atau mulut ini yang berkali-kali melontarkan pujian,
atau mata ini yang berkali-kali dipejamkan hanya untuk menyerap kekuatan dari desiran2 ombak dan hembusan angin yang mengandung pesona lima indera.
Perjalanan pulang dikelilingi lautan biru dan bentangan langit sore berwarna jingga yang perlahan memerah.
tidak percuma kukalahkan jenuh dan lelah.
semuanya terganti dengan tetesan2 pelega jiwa.
setiap tetesan itu tidak pernah tergantikan, kawan.