Meninggalkan kota itu selalu rasanya sendu.
Berlama-lama atau singkat, tetap saja terasa tidak cukup.
Bandung bukanlah kota gemerlap yang sudut2nya dipenuhi jejeran gedung berlantai banyak dan penuh hiburan. Bangunan2nya yang berdiri megah, keramaian pusat kota, detail2 historik pada setiap ornamen bangunan tua. Semuanya sangat ramah menyapa para pelancong. Hiruk pikuknya tidak mengintimidasi hati yg kerdil sang perantau tersesat.
Namun ku rasa bukan itu alasannya. Alasan mengapa hati ini terpaut.
Kenyamanan lidah mencicipi sajian yg mengundang selera juga bukan yg pertama terkenang.
Setiap kali memori tersedot dalam-dalam, hanyalah gambar tentang senyum hangat dan tatap pasang2 mata mungil yang menanti pelukan. Yang dengan sabar meladeni lelucon garing lelaki yg disapa 'om' itu.
Merasakan keeratan dengan suatu kota, semua berhubungan dengan manusianya.
Bagaimana kita berinteraksi dan get connected dengan manusia di dalamnya.
Jawaban dari semua perasaan ini terletak d situ. Alasan terkuat mengapa aku terus berharap utk kembali.